5 Supercar 90-an yang Gagal Diproduksi, Padahal Siap Mengguncang Dunia

Lima supercar 90-an yang batal lahir ke jalan raya.

  • Tanggal
  • :
  • Sabtu, 28 Feb 2026 12:05:38
5 Supercar 90-an yang Gagal Diproduksi
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • Supercar 90-an dengan mesin F1 dan teknologi balap
  • Proyek ambisius yang kandas karena krisis dan dana
  • Desain ekstrem, performa gila, nasib tragis
  • Kisah di balik layar industri otomotif era 90-an

Era 90-an adalah masa ketika pabrikan dan insinyur seperti sedang kerasukan mimpi besar. Formula 1 sedang glamor, teknologi melesat cepat, dan kata “supercar” terdengar seperti mantra sakral. Banyak yang berani bermimpi, tak semua berhasil mewujudkannya.

Di balik gemerlap nama seperti McLaren F1 dan Ferrari F50, ada lima proyek yang nyaris jadi legenda, lalu menghilang seperti asap knalpot di trek lurus Monza.

1. Isdera Commendatore 112i



Mobil asal Jerman ini seperti anak rahasia industri otomotif. Dirancang oleh Eberhard Schulz, Commendatore 112i membawa mesin Mercedes-Benz V12 6.0 liter dengan tenaga sekitar 400 hp. Pintu gullwing, suspensi adaptif, dan desain yang lebih mirip mobil Le Mans daripada mobil jalan raya. Mobil ini diperkenalkan pada 1993 dan rencananya diproduksi terbatas. Krisis finansial membuat proyeknya berhenti di satu unit saja. Bertahun-tahun kemudian, mobil ini direstorasi dan akhirnya kembali tampil di publik. Bayangkan jika saat itu Isdera punya dana lebih kuat. Dunia hypercar bisa saja punya pemain Jerman lain selain Porsche.

2. Jiotto Caspita Mk II



Nama Jiotto mungkin asing bagi pembaca Indonesia. Caspita Mk II adalah evolusi dari proyek ambisius Jepang awal 90-an. Versi Mk II menggunakan mesin V10 3.5 liter yang dikembangkan bersama Yamaha, berakar dari teknologi Formula 1, dengan tenaga sekitar 585 hp. Bodi ramping, aerodinamika agresif, dan suara mesin F1 yang menjerit tinggi. Produksi direncanakan 15 unit. Krisis ekonomi Jepang menghentikan semuanya. Di masa ketika Toyota dan Honda fokus memperkuat pasar global, proyek seperti Caspita dianggap terlalu berisiko. Jepang memilih rasionalitas, bukan romantisme.

3. Monteverdi Hai 650 F1



Swiss bukan negara yang kita kaitkan dengan supercar. Monteverdi mencoba mengubah itu lewat Hai 650 F1. Mesin V8 3.5 liter bersumber dari unit Formula 1 Ford-Cosworth, menghasilkan lebih dari 600 hp. Targetnya jelas: supercar jalan raya dengan DNA F1 murni. Sayangnya, pengembangan tersendat dan dana menipis. Mobil ini berakhir sebagai prototipe eksotis. Kalau melihat spesifikasinya, mobil ini terasa seperti eksperimen liar. Terlalu ambisius untuk realitas pasar.

4. Vector WX-3 Coupe



Amerika juga punya drama sendiri. Vector dikenal lewat WX-7 dan WX-8. WX-3 Coupé dirancang dengan mesin V8 twin-turbo 7.0 liter yang diklaim bisa menghasilkan lebih dari 1.000 hp. Angka yang bahkan hari ini masih terdengar brutal. Konflik internal perusahaan dan masalah finansial membuat proyek ini tak pernah benar-benar hidup.
WX-3 adalah contoh bagaimana visi besar tanpa fondasi bisnis kuat bisa runtuh. Amerika punya keberanian, namun industri eksotisnya belum sekuat Eropa.

5. Yamaha OX99-11



Inilah yang paling menyayat hati bagi penggemar otomotif Jepang. Yamaha OX99-11 menggunakan mesin V12 3.5 liter berbasis F1. Konfigurasi kursi tandem, pengemudi di depan, penumpang di belakang, seperti jet tempur darat.

Bobot ringan, suara mesin F1 asli, harga setara Ferrari. Saat gelembung ekonomi Jepang pecah, proyek ini dihentikan. Hanya tiga unit prototipe yang selesai.
OX99-11 terasa seperti surat cinta Yamaha kepada dunia balap yang tidak sempat dikirim. Refleksi dari Era Penuh Mimpi
Apa pelajaran dari lima kisah ini? Supercar bukan sekadar mesin dan karbon fiber. Ia adalah kombinasi mimpi, modal, timing, dan kondisi ekonomi global.
Di Indonesia, pasar supercar memang kecil. Namun minat terhadap mobil performa terus tumbuh. Kolektor makin berani. Pabrikan semakin agresif membawa model edisi terbatas.



Kadang saya membayangkan, bagaimana jika salah satu dari lima mobil ini benar-benar diproduksi massal? Apakah lanskap supercar hari ini akan berbeda?

Dunia otomotif selalu bergerak antara logika bisnis dan hasrat. Ketika salah satu terlalu dominan, lahirlah cerita seperti lima mobil 90-an ini. Gagal diproduksi, namun tetap hidup dalam ingatan para petrolhead.

Menurut Anda, mana yang paling layak untuk “dibangkitkan” kembali?

Terkait