Yamaha OX99-11: Saat Pabrikan Motor Hampir Lahirkan Hypercar F1

Kisah Yamaha OX99-11, hypercar bermesin V12 F1.

  • Tanggal
  • :
  • Kamis, 19 Feb 2026 12:05:24
Yamaha OX99-11
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • Yamaha pernah mengembangkan hypercar bermesin V12 Formula 1.
  • OX99-11 dirancang awal 1990-an dengan konfigurasi tandem seperti jet tempur.
  • Tenaga diklaim tembus 400 hp dari mesin 3.5 liter V12.
  • Proyek batal akibat krisis ekonomi Jepang dan konflik internal.
  • Andai jadi diproduksi, bisa mengubah peta hypercar dunia.

Kalau kita bicara Yamaha, pikiran langsung melayang ke R1, NMAX, atau mungkin piano. Jarang ada yang tahu bahwa pada awal 1990-an, pabrikan berlambang garpu tala itu hampir membuat hypercar yang bisa bikin Ferrari dan McLaren geleng kepala. Namanya Yamaha OX99-11.

Saya masih ingat ketika pertama kali membaca arsipnya bertahun-tahun lalu. Rasanya seperti menemukan prototipe rahasia di gudang tua. Yamaha, yang saat itu aktif sebagai pemasok mesin Formula 1, punya ambisi besar: membawa teknologi F1 ke jalan raya.



Awal cerita bermula dari mesin OX99, sebuah V12 3.5 liter yang dipakai tim F1 pada era 1989–1991. Mesin itu sanggup memuntahkan tenaga sekitar 400 horsepower, dengan karakter putaran tinggi khas balap. Yamaha berpikir, kenapa tidak membuat mobil jalan raya berbasis teknologi tersebut?

Maka lahirlah proyek OX99-11 sekitar tahun 1992. Sasisnya monokok serat karbon, suspensi double wishbone ala mobil balap, dan bodi super rendah yang terlihat lebih seperti prototipe Le Mans ketimbang mobil produksi. Konfigurasi kursinya tandem, pengemudi di depan dan penumpang tepat di belakang, mirip kokpit jet tempur. Pintu model canopy membuka ke atas, menambah kesan futuristik.

Secara desain, mobil ini ekstrem. Bobotnya diklaim sekitar 1.150 kg. Dengan rasio tenaga dan berat seperti itu, akselerasinya diperkirakan bisa menembus 0-100 km/jam dalam kisaran 3 detik. Angka yang bahkan hari ini masih terbilang buas.



Namun sejarah otomotif sering kali ditentukan bukan oleh teknologi, melainkan oleh situasi ekonomi. Awal 1990-an Jepang dilanda gelembung ekonomi yang pecah. Biaya pengembangan OX99-11 melonjak drastis. Target harga jualnya kabarnya mencapai 800 ribu dolar AS, angka yang luar biasa untuk era tersebut.
Di sisi lain, terjadi perbedaan visi antara Yamaha Jepang dan mitra pengembang di Inggris. Proyek sempat direvisi, bahkan desainnya berubah. Pada akhirnya, Yamaha memilih menghentikan program tersebut. Hanya tiga unit prototipe yang diketahui pernah dibuat.

OX99-11 adalah simbol keberanian Jepang di era itu. Jepang pada akhir 1980-an dan awal 1990-an sedang percaya diri. Honda melahirkan NSX, Toyota menyiapkan Supra generasi legendaris, Nissan punya GT-R. Yamaha mencoba melompat lebih jauh, langsung ke wilayah hypercar.

Apa hubungannya dengan Indonesia? Secara langsung mungkin tidak ada. OX99-11 terlalu eksotis untuk pasar kita yang masih berorientasi kendaraan massal. Namun kisahnya memberi pelajaran penting: identitas merek bisa berkembang jauh melampaui produk utamanya.



Di Indonesia, Yamaha dikenal sebagai raja skutik dan motor sport 150 cc. Bayangkan jika publik luas tahu bahwa mereka pernah hampir membuat hypercar bermesin V12 F1. Persepsi brand bisa berubah drastis. Cerita seperti ini punya daya tarik emosional yang kuat bagi enthusiast.

Sekarang, ketika Yamaha kembali bereksperimen lewat mobil konsep listrik seperti Yamaha Sports EV dan proyek kolaborasi dengan Gordon Murray pada beberapa tahun lalu, bayang-bayang OX99-11 terasa hidup kembali. Teknologi berubah, arah industri bergeser ke elektrifikasi, namun DNA eksplorasi itu tetap ada.

OX99-11 mungkin gagal menjadi produk massal, namun ia sukses menjadi legenda. Ia membuktikan bahwa Yamaha pernah bermimpi besar, melampaui batas zona nyaman sebagai produsen motor. Kalau proyek itu berlanjut dan masuk produksi terbatas, mungkin hari ini kita menyebut Yamaha sebagai salah satu pionir hypercar dunia, sejajar dengan McLaren F1 yang lahir di era yang sama.



Pertanyaannya, di era kendaraan listrik dan teknologi otonom seperti sekarang, apakah masih ada ruang untuk mimpi liar seperti OX99-11? Atau industri sudah terlalu rasional untuk mengambil risiko sebesar itu?

Diskusi seperti ini selalu menarik, apalagi buat kita yang tumbuh bersama poster mobil dan suara mesin putaran tinggi.

Terkait