Mengapa Penumpang Bus Harus Turun Menggunakan Kaki Kiri? Ini Penjelasannya
Penumpang bus AKAP diminta turun menggunakan kaki kiri untuk keselamatan. Simak penjelasan ilmiah dan praktis dari sopir bus tentang alasan di balik aturan ini, serta tips aman saat naik transportasi umum.
Naik bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk bepergian jarak jauh. Namun, mungkin banyak dari kita yang pernah mendengar kernet atau sopir mengingatkan penumpang untuk turun menggunakan kaki kiri terlebih dahulu. Ternyata, aturan sederhana ini memiliki dasar ilmiah yang kuat terkait keselamatan dan keseimbangan tubuh.
Menurut Rudy, seorang sopir bus dari PO Primajasa yang berpengalaman selama lebih dari 15 tahun, aturan ini bukanlah kebiasaan sembarangan. "Jika penumpang turun dengan kaki kanan dulu, tubuh akan kehilangan keseimbangan karena kaki kiri tidak mampu menopang berat badan secara optimal," jelasnya saat diwawancarai Kompas.com beberapa waktu lalu. Fenomena ini terjadi karena posisi pintu bus selalu berada di sisi kiri kendaraan, sehingga kaki kiri secara alami lebih dekat ke tanah saat turun.
Secara fisiologis, tubuh manusia dirancang untuk seimbang ketika kedua kaki bekerja bersamaan. Saat turun dari bus yang berhenti di bahu jalan atau terminal, kaki kiri yang disentuhkan terlebih dahulu akan menjadi penopang utama. Kaki kanan, yang berada di dalam bus, akan secara otomatis mengikuti gerakan tubuh dan menjaga keseimbangan. Jika urutan ini dibalik, penumpang cenderung tergelincir karena kaki kiri yang belum menapak tidak mampu menerima beban tubuh.
"Ini bukan hanya soal kebiasaan, tapi juga keselamatan. Banyak penumpang luar negeri yang terkejut saat pertama kali naik bus di Indonesia karena aturan ini tidak mereka temukan di transportasi umum negara mereka," tambah Rudy. Ia menekankan bahwa aturan ini berlaku universal, baik untuk bus AKAP, angkutan kota, maupun kendaraan umum lainnya.
Lebih lanjut, Rudy membagikan tips praktis untuk penumpang agar tetap aman saat naik dan turun bus. Pertama, pastikan kaki kiri selalu digunakan untuk turun. Kedua, jangan terburu-buru saat keluar, terutama di terminal yang ramai. Ketiga, perhatikan kondisi jalan di bawah bus, terutama di daerah berlumpur atau berair. Terakhir, selalu tanyakan pada kernet jika tidak yakin dengan prosedur turun.
Aturan ini juga mendapat dukungan dari ilmu kinesiologi. Dr. Siti Aminah, ahli biomekanika dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa saat turun dari ketinggian sekitar 30-40 sentimeter seperti tinggi lantai bus, kaki yang digunakan pertama kali harus mampu menahan 70% beban tubuh. "Kaki kiri lebih efektif karena posisi berseberangan dengan sisi pintu, sehingga distribusi berat lebih proporsional," paparnya.
Bagi penumpang yang memiliki keterbatasan fisik atau disabilitas, Rudy menyarankan untuk memberi tahu kernet sejak awal. "Kami selalu siap membantu, tapi butuh koordinasi dari penumpang juga agar proses pemberhentian bisa berjalan lancar," katanya. Selain itu, penggunaan alat bantu seperti pegangan tangan di dalam bus juga disarankan untuk meminimalkan risiko cedera.
Dengan memahami ilmu di balik aturan ini, diharapkan penumpang bisa lebih disiplin mengikuti prosedur. Kesadaran kolektif terhadap keselamatan bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain di sekitar. Jadi, saat mendengar ingatan untuk turun dengan kaki kiri, jangan anggap sebagai ritual semata—itu adalah protokol yang bisa menyelamatkan nyawa.