Mazda Vision-X Coupe: Inovasi Hybrid dengan Teknologi Mesin Rotary dan Carbon Capture

Mazda meluncurkan konsep mobil hybrid Vision-X Coupe yang menggabungkan mesin rotary, sistem EREV, dan teknologi carbon capture untuk mengurangi emisi. Penjelasan lengkap tentang inovasi Mazda di JMS 2025.

Mazda Vision-X Coupe
Sumber : Istimewa

Mazda, pabrikan mobil Jepang yang dikenal dengan pendekatan inovatif, kembali mengejutkan dunia otomotif dengan meluncurkan konsep mobil hybrid terbarunya, Mazda Vision-X Coupe, di Japan Mobility Show 2025. Model ini tidak hanya menawarkan estetika futuristik namun juga menghadirkan teknologi canggih yang menggabungkan mesin rotary, sistem Extended-Range Electric Vehicle (EREV), dan inovasi carbon capture untuk mengurangi emisi karbon.

Sebagai pabrikan yang pernah mengukir sejarah dengan legendarisnya RX-7 dan RX-8, Mazda kembali memanfaatkan mesin rotary dual rotor sebagai 'range extender' dalam sistem hybridnya. Mesin ini dipilih bukan hanya karena performanya yang tinggi namun juga karena desainnya yang kompak dan efisiensi energi dalam skema EREV. Berbeda dengan sistem hybrid konvensional, Mazda Vision-X Coupe sepenuhnya dioperasikan oleh motor listrik dengan mesin rotary berfungsi sebagai generator pengisi baterai.

"EREV Mazda tidak hanya soal tenaga, tapi juga soal keberlanjutan," kata seorang juru bicara Mazda. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar dibandingkan teknologi e-Power Nissan, mobil ini diklaim mampu menempuh jarak 160 km dalam mode listrik murni dan total 800 km dengan bantuan mesin rotary. Angka ini diukur berdasarkan standar WLTP (World Harmonized Light Vehicle Test Procedure) yang lebih representatif terhadap kondisi nyata.

Salah satu teknologi unggulan yang membuat Mazda Vision-X Coupe berbeda adalah sistem carbon capture. Sebelum CO2 dilepaskan ke atmosfer, gas buang dari mesin rotary diproses melalui pipa khusus dengan kipas penggerak. Proses ini memfilter lebih dari 90% emisi karbon, meski Mazda mengakui bahwa penangkapan 100% belum tercapai. Teknologi ini dianggap sebagai langkah maju dalam mengurangi dampak lingkungan tanpa mengorbankan performa.

Mesin rotary, yang ditemukan oleh Felix Wankel, memang memiliki karakteristik unik. Dengan siklus pembakaran tiga kali dalam satu putaran rotor (berbeda dengan mesin konvensional yang hanya sekali), mesin ini menghasilkan tenaga besar dalam volume yang lebih kecil. Namun, tantangan utama mesin rotary adalah efisiensi bahan bakar, terutama dalam kondisi lalu lintas padat. Untuk mengatasi ini, Mazda memanfaatkan bahan bakar berbasis algae (alga) yang lebih ramah lingkungan.

"Alga adalah sumber biofuel yang berpotensi besar," jelas tim riset Mazda. Mikroalga yang tumbuh di perairan Jepang diproses menjadi bioethanol yang digunakan untuk mesin rotary. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, bioethanol dari alga juga menghasilkan emisi yang lebih rendah. Mazda optimis teknologi ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk transportasi berkelanjutan.

Kombinasi antara EREV, carbon capture, dan bahan bakar alga membuat Mazda Vision-X Coupe menjadi salah satu konsep mobil paling inovatif di era transisi energi. Meski masih dalam tahap konsep, Mazda telah menunjukkan komitmen kuatnya untuk menggabungkan nostalgia teknologi lama dengan solusi modern untuk masa depan otomotif yang lebih hijau.

Bagi pencinta teknologi, Mazda Vision-X Coupe bukan hanya sekadar mobil. Ini adalah pernyataan bahwa inovasi tidak selalu harus mengorbankan identitas. Dengan menghidupkan kembali mesin rotary dan memadukannya dengan teknologi terkini, Mazda membuktikan bahwa masa depan otomotif bisa seimbang antara performa, estetika, dan keberlanjutan.

Terkait