VW ID Buzz Rainer Zietlow 2025: Sebuah Perjalanan

Ikuti petualangan Rainer Zietlow yang mengelilingi dunia dengan VW ID Buzz, mobil listrik yang menunjukkan masa depan mobilitas. Dari Hannover hingga Bali, eksplorasi teknologi, tantangan, dan visi keberlanjutan.

VW ID Buzz Rainer Zietlow 2025
Sumber : Istimewa

Di bawah langit biru Jerman, 1 Juni 2025 menjadi titik awal perjalanan bersejarah bagi Rainer Zietlow. Dengan mengemudikan VW ID Buzz, mobil listrik canggih milik Volkswagen, pria yang akrab dipanggil Reiner ini memulai perjalanan mengelilingi dunia yang diperkirakan memakan waktu 8 bulan. Dengan misi menggaungkan mobilitas berkelanjutan, ia membawa pesan bahwa transportasi masa depan bisa sekaligus inovatif, ramah lingkungan, dan terjangkau.

Bagi Rainer, ini bukanlah kali pertama ia menjalani tantangan ekspedisi. Sebelumnya, pada 2012, ia memimpin perjalanan dari Melbourne ke St. Petersburg dengan VW Touareg, melewati NTT hingga Riau sebelum melintas ke Malaysia. Kini, ia kembali dengan teknologi terkini, namun tetap mempertahankan filosofi dasar: menggunakan kendaraan yang representatif, bukan mobil khusus. "Saya hanya menghapus beberapa kursi belakang untuk menyimpan perbekalan dan alat teknis, selain itu, VW ID Buzz ini identik dengan versi yang dijual ke publik," terangnya saat diwawancara di Hannover.

Ekspedisi ini melibatkan lebih dari 30 negara, dengan Indonesia menjadi salah satu titik strategis di kawasan Asia Tenggara. VW ID Buzz tiba di Jakarta melalui Pelabuhan Tanjung Priok setelah menyeberangi Malaysia dan Singapura. Rencananya, ia akan menjelajahi Semarang, Surabaya, dan Bali, sambil mengamati dinamika lalu lintas dan budaya lokal. "Setiap hari saya mengemudi 12 jam, bergantian dengan tim saya. Tapi waktu lain saya habiskan untuk dokumentasi dan eksplorasi," jelas Rainer, yang mengaku tidak pernah merasa bosan meski menghadapi tantangan teknis.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah adaptasi terhadap peraturan dan infrastruktur di berbagai negara. Contohnya, Iran ditutup karena hambatan administratif, sementara Jepang menetapkan biaya akreditasi yang terlalu mahal untuk kendaraan pelat asing. Di Tiongkok, ia mengalami kesulitan karena soket pengisian daya listrik berstandar GB/T, yang berbeda dari tipe mobilnya. "Beruntung saya membawa converter, dan beberapa kali mengisi daya di dealer VW," tambahnya sambil tersenyum.

Untuk wilayah Indonesia, Rainer mengakui bahwa Jakarta menjadi area paling menantang karena kepadatan lalu lintas dan dominasi motor. "Saya harus ekstra waspada, karena jumlah motor di sini terus meningkat," katanya. Meski begitu, ia tetap mematuhi aturan lalu lintas setempat, mengamati pola pengemudi lokal, dan menjaga kecepatan yang aman. Sebagai pengemudi setir kiri, ia juga terbiasa dengan perbedaan arus lalu lintas di berbagai negara.

Spesifikasi VW ID Buzz menjadi kunci keberhasilan ekspedisi ini. Ditenagai motor 210 kW dan baterai 91 kWh, mobil ini dilengkapi port pengisian daya tipe Type 2 (AC) dan CCS2 (DC). Dengan fast charging hingga 200 kW, baterai bisa diisi dari 10% ke 80% dalam 30 menit. "Ini memungkinkan saya tetap bergerak tanpa tergantung pada infrastruktur yang belum sempurna," ujar Rainer. Ia juga menekankan pentingnya pengisian daya di dealer resmi VW sebagai solusi darurat di negara-negara dengan jaringan pengisian umum yang terbatas.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan pribadi, tetapi juga kampanye global untuk menunjukkan bahwa mobil listrik bisa digunakan di berbagai kondisi geografis dan budaya. Rainer berharap, melalui dokumentasi dan interaksi langsung dengan masyarakat, ia bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk beralih ke transportasi berkelanjutan. "Tujuan utama saya adalah menunjukkan bahwa mobilitas masa depan tidak hanya mungkin, tapi juga nyata hari ini," pungkasnya.

Sebagai penutup, ekspedisi VW ID Buzz World Tour 2025 tidak hanya menjadi studi teknis tentang mobil listrik, tetapi juga cerita tentang keterbukaan, adaptasi, dan komitmen terhadap lingkungan. Dengan setiap kilometer yang ditempuh, Rainer Zietlow terus menulis bab baru dalam sejarah mobilitas global.

Terkait