Etanol dalam BBM: Mitos Karat atau Fakta Ilmiah?

Penjelasan ilmiah mengenai risiko karat akibat penambahan etanol 10% pada Pertalite dan Pertamax. Analisis sifat higroskopis etanol, standar kualitas, serta dampak lingkungan yang perlu diketahui pengguna kendaraan.

Etanol dalam BBM:
Sumber : Istimewa

Wacana pemerintah tentang penambahan etanol hingga 10% pada bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Pertamax memicu banyak pertanyaan masyarakat. Salah satu kekhawatiran utama adalah risiko karat pada komponen kendaraan akibat penggunaan etanol dalam jangka panjang. Namun, apakah klaim tersebut berdasarkan fakta ilmiah atau sekadar mitos?

Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, staf pengajar Teknik Mesin ITB, memberikan penjelasan teknis dalam wawancara eksklusif di RAMO Podcast. Menurut pakar yang memiliki keahlian di bidang rekayasa termal ini, etanol memang memiliki potensi merusak pelapis antikarat tertentu, terutama yang mengandung timbal (Pb). Reaksi kimia yang terjadi dapat menyebabkan lapisan pelindung menjadi rapuh, sehingga bagian logam kendaraan rentan terpapar oksigen dan air.

'Karena etanol bersifat reaktif terhadap pelapis antikarat berbasis timbal. Reaksi oksidasi ini membuat lapisan melupas, sehingga logam langsung terkena oksigen dan air yang memicu karat,' jelas Tri dalam diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube Otodier.

Lebih lanjut, Tri menegaskan bahwa penyebab utama korosi bukanlah etanol itu sendiri, melainkan sifat higroskopis bahan ini. Etanol mampu menyerap air dari udara hingga mencapai kadar maksimum 0,7% berdasarkan standar Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). 'Air yang terperangkap di dalam bensin inilah yang menjadi pemicu karat, bukan etanol sebagai zat utamanya,' papar Tri.

Untuk menekan risiko tersebut, pemerintah telah menetapkan standar ketat bagi etanol campuran BBM. Kualitas etanol harus mencapai kemurnian minimal 99,4% dengan kadar air tidak lebih dari 0,7%. Standar ini dirancang agar bahan bakar tetap aman digunakan di seluruh jenis kendaraan yang beredar di Indonesia.

Menariknya, penggunaan etanol tidak hanya berdampak pada performa mesin. Dari sisi lingkungan, bahan bakar bio ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 30% dibanding bensin fosil. Namun, Tri menekankan pentingnya pengawasan mutu bahan bakar secara berkala untuk memastikan standar tersebut tetap terpenuhi.

Tenaga kerja di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) juga perlu dilatih mengenai karakteristik etanol. Misalnya, sistem penyimpanan bahan bakar harus dirancang khusus untuk mencegah penyerapan air dari lingkungan luar. Selain itu, mekanik harus memahami perbedaan perawatan antara mesin yang menggunakan bahan bakar konvensional dan etanol campuran.

Sejumlah negara seperti Brasil dan AS telah sukses mengimplementasikan bahan bakar E10 (10% etanol) selama puluhan tahun tanpa masalah signifikan. Keberhasilan mereka didukung oleh sistem pengawasan mutu yang ketat dan edukasi publik yang intensif. Indonesia, dengan potensi tebu dan jagung yang melimpah, memiliki peluang besar untuk menjadi produsen etanol terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Perlu diingat bahwa teknologi mesin modern saat ini telah dirancang untuk menyesuaikan dengan bahan bakar berbasis etanol. Produsen kendaraan besar seperti Toyota dan Honda bahkan menyertakan spesifikasi penggunaan E10 dalam manual penggunaan kendaraan mereka. Namun, untuk kendaraan lama yang masih menggunakan pelapis antikarat berbasis timbal, sebaiknya dilakukan inspeksi berkala terhadap sistem bahan bakar.

Dalam konteks ekonomi, penambahan etanol dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Dengan produksi dalam negeri yang mencapai 1,5 juta liter per hari, program etanol ini diharapkan mampu menghemat devisa hingga US$2 miliar per tahun. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada koordinasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Untuk konsumen, Tri menyarankan beberapa langkah antisipatif: pertama, memilih SPBU yang memiliki sertifikasi mutu bahan bakar, kedua, melakukan perawatan mesin secara berkala, dan ketiga, memastikan sistem pengapian kendaraan dalam kondisi optimal. 'Dengan perawatan yang tepat, risiko karat akibat etanol bisa diminimalkan hingga 90%,' pungkas pakar Teknik Mesin ITB ini.

Terkait