Program B40 Hemat Devisa Rp93 Triliun, Bukti Nyata Transisi Energi Indonesia
B40 sukses hemat Rp93 triliun, serap 1,3 juta tenaga kerja, kurangi emisi karbon.
Highlights:
- B40 berhasil hemat devisa Rp93,43 triliun.
- Serap 1,3 juta tenaga kerja dan kurangi emisi karbon 28 juta ton.
- Tingkatkan nilai tambah CPO Rp14,7 triliun.
- Didukung pabrikan otomotif, termasuk Toyota.
- Sejalan dengan target bauran EBT 19–23% pada 2030.
Program B40 Hemat Devisa Rp93 Triliun, Bukti Nyata Transisi Energi Indonesia
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan keberhasilan besar dari program bahan bakar campuran biodiesel 40 persen atau B40. Sejak diluncurkan awal 2025, realisasi produksi hingga September 2025 telah mencapai 10,57 juta kiloliter (KL). Program ini bukan hanya simbol transisi energi, tetapi juga bukti konkret bahwa Indonesia mampu menekan impor bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, keberhasilan B40 telah menghasilkan penghematan devisa hingga Rp93,43 triliun. “Selain menghemat devisa, program ini menyerap lebih dari 1,3 juta tenaga kerja dan menurunkan emisi karbon sebesar 28 juta ton,” ungkap Bahlil, dikutip dari Antara (23/10).
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Selain menekan impor solar, penerapan B40 juga meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) hingga Rp14,7 triliun. Rantai pasok biodiesel yang melibatkan petani sawit rakyat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi hijau nasional. “Petani sawit kini menjadi bagian penting dalam ekosistem energi baru yang berkelanjutan,” kata Bahlil.
Program ini diatur melalui Keputusan Menteri ESDM No. 341.K/EK.01/MEM.E/2024, yang mewajibkan campuran Fatty Acid Methyl Esters (FAME) 40% dengan solar 60%. Kolaborasi antara pemerintah dan industri otomotif pun semakin solid. Sejumlah pabrikan seperti Toyota bahkan memastikan bahwa kendaraan mereka sudah kompatibel dengan bahan bakar campuran B40.
Langkah Lanjut Energi Terbarukan
Keberhasilan program biodiesel ini sejalan dengan dorongan pemerintah dalam mempercepat transisi energi bersih. Pada 2025, Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan lebih dari 80 pembangkit listrik baru, dengan mayoritas berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti PLTP dan PLTS. Total kapasitasnya mencapai 3,6 gigawatt (GW), tersebar di berbagai provinsi.
Pemerintah juga menargetkan bauran EBT nasional sebesar 19–23 persen pada 2030, sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Target ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian energi sekaligus menekan dampak perubahan iklim global.
Program B40 bukan sekadar kebijakan bahan bakar alternatif, melainkan tonggak penting menuju kemandirian energi dan ekonomi hijau Indonesia. Dengan penghematan devisa, penciptaan lapangan kerja, serta penurunan emisi karbon yang signifikan, langkah ini menunjukkan bahwa masa depan energi bersih bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan yang sedang diwujudkan.