Update Negosiasi Impor BBM: Pertamina Patra Niaga Siap Kirim Kargo ke Vivo dan BP Tengah Oktober
Pertamina Patra Niaga mengungkapkan progres negosiasi impor BBM dengan pengelola SPBU swasta seperti Vivo dan BP hingga tahap akhir. Peluncuran kargo dijadwalkan Oktober 2023, sementara Shell dan Exxon belum terlibat. Lihat detail proses dan tantangan regulasi.
PT Pertamina Patra Niaga, BUMN yang bertanggung jawab atas distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, mengungkapkan bahwa negosiasi impor BBM untuk badan usaha pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta masih berada di tahap akhir. Proses ini melibatkan pihak seperti PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) dan PT Aneka Petroindo Raya (APR)-AKR Corporindo Tbk (pengelola SPBU BP), dengan target penyelesaian kesepakatan sebelum kargo dikirim ke pelabuhan Indonesia pada pekan ketiga Oktober 2023.
"Proses negosiasi dengan Vivo dan BP masih berlangsung, sementara kargo yang dipesan Pertamina untuk kebutuhan internal sudah sesuai jadwal," kata Roberth MV Dumatubun, Pelaksana Tugas Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, seperti dilansir Antara (13/10). Roberth menegaskan bahwa tahapan penandatanganan kontrak akan segera rampung setelah seluruh aspek teknis dan regulasi disepakati.
Menurut Roberth, negosiasi dengan Vivo dan BP fokus pada pemenuhan standar Good Corporate Governance (GCG), termasuk pernyataan antimonopoli, pencegahan pencucian uang, dan komitmen anti-korupsi. Tahapan ini dianggap krusial untuk memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap aturan pemerintah. Setelah itu, kedua pihak akan membahas aspek komersial, seperti harga, volume, dan mekanisme pembayaran, serta rencana inspeksi bersama terhadap kualitas BBM yang akan dikirim.
Pertamina Patra Niaga memainkan peran sentral dalam proses ini, mulai dari penyediaan BBM hingga koordinasi logistik. Kargo yang disiapkan akan dikirim dalam satu paket untuk kedua pengelola SPBU swasta tersebut, sehingga distribusi dapat berjalan efisien. Roberth mengisyaratkan bahwa jadwal pengiriman kargo sudah hampir final, dengan potensi penyelesaian dalam seminggu ke depan.
Sementara itu, dua perusahaan besar lain, Shell dan ExxonMobil, belum terlibat dalam negosiasi serupa. Pihak Shell Indonesia diketahui masih berkoordinasi dengan kantor pusat di London, Inggris, untuk mengevaluasi strategi distribusi BBM di pasar domestik. Sementara itu, ExxonMobil mengklaim stok BBM mereka masih mencukupi hingga November 2023, sehingga tidak terburu-buru meneken kesepakatan impor baru.
Keterlibatan Pertamina Patra Niaga dalam proses ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga ketersediaan BBM di SPBU swasta, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga global dan kebutuhan konsumen yang meningkat. Dengan penyelesaian negosiasi yang segera terealisasi, diharapkan distribusi BBM dapat berjalan stabil, mengurangi risiko kelangkaan, dan memperkuat daya saing SPBU swasta di pasar.
Bagi pengelola SPBU, keterlibatan dalam program impor BBM melalui Pertamina Patra Niaga juga membuka peluang untuk memperoleh pasokan dengan harga yang lebih kompetitif dibanding pembelian langsung dari produsen internasional. Namun, proses negosiasi yang kompleks, termasuk persyaratan regulasi dan audit kepatuhan, menjadi tantangan utama yang harus diatasi oleh semua pihak.
Sebagai catatan, Pertamina Patra Niaga telah menjalin kerja sama serupa dengan sejumlah perusahaan sebelumnya, seperti PT Pertamina Hulu Energi dan perusahaan asing lainnya. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada koordinasi antara pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta dalam menjaga ketersediaan energi nasional.