Mercedes-Benz 108 & 109: Sedan Jerman yang Mengubah Makna Mewah di Jalan Raya

Mercedes-Benz 108 dan 109 adalah fondasi sedan mewah modern Mercedes.

Mercedes-Benz 108 & 109
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • Mercedes-Benz 108 dan 109 lahir pada pertengahan 1960-an sebagai simbol kemewahan baru
  • Menjadi jembatan antara Mercedes klasik era krom dan sedan modern
  • Dipakai pejabat, pengusaha, hingga kolektor kelas dunia
  • Pernah hadir dan digunakan di Indonesia pada era 1970–1980-an
  • Fondasi filosofi sedan mewah Mercedes hingga S-Class modern

Di dunia otomotif, ada mobil yang sekadar cepat, ada yang sekadar mahal, dan ada pula yang mengubah cara orang memandang sebuah merek. Mercedes-Benz 108 dan 109 masuk kategori terakhir. Dua sedan ini bukan cuma produk, melainkan tonggak. Bagi Mercedes-Benz, keduanya adalah langkah besar menuju definisi sedan mewah modern seperti yang kita kenal hari ini.

Saya pertama kali melihat Mercedes 108 di garasi seorang kolektor senior. Cat hitamnya sudah kusam, aroma interior kulit bercampur usia, tapi aura wibawanya tetap terasa. Dari situ saya paham, mobil ini tidak pernah benar-benar tua.



Mercedes-Benz W108 dan W109 diperkenalkan pada tahun 1965. Saat itu, Mercedes sedang berada di masa transisi. Model-model sebelumnya seperti “Fintail” atau Heckflosse sudah terasa terlalu klasik, sementara pasar menuntut desain yang lebih bersih, modern, dan elegan.

Desainnya digarap oleh Paul Bracq, sosok yang kelak dikenal sebagai maestro desain otomotif Eropa. Garis bodinya lurus, minim ornamen, proporsional, dan jauh dari kesan berlebihan. Dari sinilah DNA desain Mercedes modern mulai terbentuk.
Secara visual, W108 dan W109 terlihat mirip. Bedanya terletak pada filosofi dan teknologinya. W108 ditujukan sebagai sedan mewah konvensional, sementara W109 hadir sebagai versi lebih eksklusif dengan suspensi udara dan jarak sumbu roda lebih panjang.



Masuk ke bagian teknis, Mercedes 108 dan 109 bukan mobil sembarangan. Varian mesinnya beragam, mulai dari enam silinder segaris hingga V8. Salah satu yang paling legendaris adalah 300 SEL 6.3 (W109), sedan empat pintu dengan mesin V8 6.3 liter yang diambil dari Mercedes 600 Pullman.

Di masanya, ini seperti anomali. Sedan besar, mewah, senyap, tapi sanggup melaju lebih dari 220 km/jam. Bahkan hingga hari ini, banyak jurnalis otomotif menyebut 300 SEL 6.3 sebagai cikal bakal sport sedan modern.



Suspensi udara pada W109 memberi kenyamanan yang sulit ditandingi mobil lain di era 1960-an. Saat pabrikan lain masih berkutat dengan per daun atau pegas konvensional, Mercedes sudah bicara soal kenyamanan adaptif.

Di Indonesia, Mercedes-Benz 108 dan 109 masuk lewat jalur resmi maupun impor umum pada era 1970-an. Mobil ini banyak digunakan oleh pejabat tinggi, pengusaha besar, hingga kalangan diplomatik. Tidak sedikit pula yang dipakai sebagai mobil dinas atau kendaraan protokoler.

Dalam konteks pasar otomotif Indonesia saat itu, memiliki Mercedes 108 atau 109 adalah pernyataan status. Jalanan belum sepadat sekarang, dan kehadiran sedan besar berlogo bintang tiga langsung mencuri perhatian.



Saya sering mendengar cerita bengkel-bengkel lama di Jakarta dan Bandung yang dulu merawat mobil ini dengan penuh hormat. Suku cadangnya mahal, tapi kualitasnya sepadan. Banyak unit yang bertahan puluhan tahun karena dirawat dengan serius.

Produksi W108 dan W109 berakhir pada awal 1970-an, digantikan oleh W116, generasi pertama Mercedes-Benz S-Class. Di titik inilah perannya menjadi sangat jelas. Tanpa 108 dan 109, mungkin tidak ada S-Class seperti yang kita kenal hari ini.

Di era mobil listrik dan layar sentuh di mana-mana, melihat kembali Mercedes 108 dan 109 terasa seperti membuka buku sejarah otomotif yang ditulis dengan tinta tebal. Mobil ini mengajarkan bahwa kemewahan tidak harus berisik, dan teknologi terbaik sering kali bekerja dalam diam.



Pertanyaannya sekarang, di tengah derasnya inovasi dan elektrifikasi, apakah dunia otomotif masih memberi ruang bagi mobil yang dibangun dengan filosofi setenang dan sejujur Mercedes 108 dan 109?

Terkait