Sejarah Toyota Kijang di Indonesia: Dari Mobil Kerja Jadi Ikon Keluarga
Perjalanan Toyota Kijang dari mobil niaga hingga legenda keluarga Indonesia.
Highlights:
- Toyota Kijang lahir dari kebutuhan pasar Indonesia, bukan sekadar strategi global
- Dari pikap sederhana hingga MPV modern
- Evolusi desain dan teknologi yang selalu mengikuti zaman
- Kijang sebagai cermin perubahan kelas menengah Indonesia
Kalau ada satu mobil yang bisa dibilang tumbuh bersama Indonesia, Toyota Kijang jawabannya. Bukan Ferrari, bukan Mercedes, bahkan bukan sedan Jepang yang dulu jadi simbol status. Kijang adalah mobil yang masuk ke gang sempit, ke proyek bangunan, ke halaman rumah, sampai ke parkiran kantor kecamatan.
Saya masih ingat pertama kali melihat Kijang generasi awal. Bentuknya kotak, hidungnya moncong, pintunya tipis, dan suaranya keras. Tidak ada yang menyebutnya keren. Tapi justru di situlah kekuatannya. Mobil ini lahir untuk bekerja.
Toyota Kijang pertama meluncur di Indonesia pada 1977. Waktu itu namanya belum dibumbui istilah marketing yang ribet. Orang-orang menyebutnya Kijang Buaya, karena kap mesinnya membuka ke samping seperti rahang buaya.
Basisnya sederhana: sasis tangguh, mesin bandel, perawatan mudah. Toyota membaca pasar Indonesia dengan jeli. Negara berkembang, infrastruktur terbatas, kebutuhan utama adalah mobil serbaguna yang bisa angkut barang dan orang tanpa drama.
Strategi ini bukan kebetulan. Pemerintah saat itu mendorong kendaraan niaga ringan yang dirakit lokal. Kijang pun menjadi bagian dari cerita industrialisasi otomotif Indonesia.
Masuk era 1980-an, Kijang mulai berubah wajah. Generasi Kijang Super membawa bodi lebih rapi dan varian minibus. Di sinilah pergeseran identitas terjadi. Kijang tidak lagi sekadar mobil proyek, tapi mulai masuk ke garasi keluarga.
Generasi Kijang Kapsul di era 1990-an menjadi titik balik besar. Desain membulat, kabin lebih nyaman, AC dingin, suspensi lebih bersahabat. Banyak keluarga Indonesia naik kelas bersama mobil ini. Dari rumah sederhana, cicilan pertama, sampai mudik Lebaran penuh cerita.
Sebagai jurnalis, saya sering mendengar kalimat serupa di berbagai kota: “Dulu bapak pakai Kijang buat kerja, sekarang anaknya pakai buat antar anak sekolah.”
Masuk 2004, nama Kijang disandingkan dengan kata Innova. Sebagian penggemar lama sempat mengernyit. Terlalu mewah, terlalu modern, terlalu mahal. Tapi pasar bicara lain.
Kijang Innova menjadi refleksi perubahan kelas menengah Indonesia. Kabin luas, mesin lebih halus, fitur bertambah, rasa berkendara makin nyaman. Ia bukan lagi mobil pekerja keras, melainkan mobil keluarga mapan yang tetap fungsional.
Generasi terbaru bahkan masuk ke ranah hybrid. Sebuah lompatan besar dari Kijang Buaya yang serba mekanis. Namun benang merahnya tetap sama: andal, serbaguna, dan relevan dengan kebutuhan orang Indonesia.
Tidak banyak mobil yang bertahan lintas generasi tanpa kehilangan relevansi. Kijang salah satunya. Ia bukan mobil paling mewah, bukan paling cepat, tapi selalu ada di momen penting kehidupan banyak orang.
Dalam konteks pasar Indonesia hari ini, ketika MPV baru bermunculan dan SUV semakin dominan, nama Kijang tetap punya bobot historis dan emosional. Ia bukan sekadar produk, tapi bagian dari memori kolektif.
Pertanyaannya ke depan sederhana: apakah generasi muda masih akan punya hubungan emosional dengan Kijang seperti orang tua mereka dulu? Atau Kijang akan menjadi legenda yang dikenang, bukan lagi dirasakan?