Jangan Abaikan Ban Serep! 4 Tips Merawat Ban Cadangan Agar Siap Saat Darurat

Ban serep sering diabaikan meski kritis saat darurat. Pelajari 4 cara merawat ban cadangan mobil secara lengkap, dari pengecekan tekanan angin hingga tanggal produksi, agar siap digunakan kapan saja.

Ban Serep
Sumber : Otomotifnet

Bagi pemilik mobil, merawat ban utama adalah kebiasaan rutin. Namun, satu komponen vital yang sering terlupakan adalah ban serep. Banyak pengemudi baru menyadari pentingnya ban cadangan saat terjadi kebocoran mendadak. Jika ban serep dalam kondisi buruk, situasi ini bisa memicu risiko kecelakaan atau keterlambatan perjalanan. Untuk menghindari hal tersebut, simak 4 langkah praktis merawat ban cadangan agar selalu siap digunakan.

Penyimpanan ban serep yang tersembunyi di bagian bawah mobil atau kompartemen khusus membuatnya mudah terabaikan. Padahal, perawatan berkala untuk ban cadangan sama pentingnya dengan ban utama. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Cek Kondisi Fisik dan Masa Pakai Ban

Karet sebagai bahan utama ban rentan mengalami degradasi alami akibat paparan sinar UV, suhu ekstrem, atau kelembapan. Ban serep yang sudah melewati 5-6 tahun masa pakai cenderung kehilangan elastisitas, sehingga berisiko pecah saat digunakan. Untuk memastikan kondisi fisiknya, periksa secara visual:

  • Apakah permukaan ban kaku atau retak-retak
  • Tanda keausan pada pola tapak yang tidak merata
  • Kelengkungan atau deformasi struktur ban

Jika ditemukan tanda-tanda kerusakan, segera ganti ban serep dengan yang baru. Jangan mengandalkan ban cadangan yang sudah melewati masa optimalnya.

2. Mantapkan Tekanan Angin Secara Berkala

Tekanan angin yang tepat adalah kunci keselamatan. Ban serep yang disimpan lama cenderung mengalami penyusutan udara hingga 10-15% per tahun. Untuk memastikan siap pakai, ukur tekanan angin menggunakan alat presisi setiap 3-6 bulan. Standar tekanan ideal untuk ban cadangan adalah 35-40 psi.

Perlu diperhatikan bahwa tekanan angin bisa berbeda antara mobil berpenggerak roda depan dan belakang. Pastikan nilai yang ditetapkan sesuai dengan manual kendaraan. Jika tekanan terlalu rendah, ban bisa melebar saat digunakan, meningkatkan risiko pecah.

3. Lakukan Penyetelan Spooring dan Wheel Balancing

Proses spooring (penyetelan kaki-kaki) dan wheel balancing tidak hanya untuk ban utama. Ban serep yang tidak sejajar dengan sumbu kendaraan bisa menyebabkan getaran ekstrem saat digunakan. Jika ban cadangan sering dipakai sementara, pastikan posisinya selaras dengan roda lain.

Rekomendasi penyetelan: lakukan spooring setiap 6 bulan atau 10.000 km, tergantung intensitas pemakaian. Biaya proses ini relatif terjangkau, sekitar Rp150.000-Rp300.000, tergantung bengkel.

4. Baca Tanggal Produksi Ban dengan Cermat

Setiap ban memiliki kode produksi (DOT code) di sisi samping. Kode ini terdiri dari 4 angka yang menunjukkan pekan dan tahun pembuatan. Contoh: ban dengan kode 1420 berarti dibuat pada pekan ke-14 (April) tahun 2020. Bahkan jika mobil baru, ban serep bisa berusia 1-2 tahun karena masa penyimpanan di pabrik.

Produksi ban yang terlalu lama (lebih dari 6 tahun) meningkatkan risiko kebocoran atau pecah mendadak. Jika menemukan ban serep dengan kode produksi lebih dari 5 tahun, segera ganti.

Perawatan tambahan: simpan ban serep di tempat kering, jauh dari bahan kimia korosif. Jika mobil menggunakan ban serep sebagai pengganti sementara, jangan mengemudi lebih dari 80 km/jam atau jarak lebih dari 80 km untuk menghindari risiko.

Dengan mengikuti 4 langkah di atas, Anda memastikan ban cadangan selalu dalam kondisi optimal. Jangan biarkan kebiasaan buruk merawat ban serep menjadi penyebab kerugian saat situasi darurat. Lakukan pengecekan rutin dan simpan alat perbaikan ban di dalam mobil sebagai antisipasi.

Terkait