Nostalgia Mercedes-an Prancis: Mengenang Citroën BX 16 TRS di Indonesia

BX 16 TRS: sedan hatchback klasik Eropa yang sempat menghiasi jalanan Indonesia.

Citroën BX 16 TRS
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • Citroën BX diluncurkan global tahun 1982 oleh pabrikan asal Prancis, sebagai penerus seri GS.
  • Varian 16 TRS menjadi tipe 1.6 liter (mesin karburator) yang dibawa ke Indonesia antara 1986–1990.
  • BX dikenal dengan desain “Eropa sungguh” dan fitur futuristik untuk zamannya: suspensi hydropneumatik, power window, power steering, central lock.
  • Produksi global BX hingga 1994 mencapai lebih dari 2,3 juta unit — artinya banyak orang di seluruh dunia pernah merasakan sensasi “BX feeling”.
  • Di Indonesia, kehadiran BX sempat menjadi simbol “kelas menengah-atas Eropa”, tetapi sejak hengkangnya pabrik mx 1994 BX pun menghilang dari jalanan. 

Bagi penggemar otomotif Eropa seperti saya, ada mobil yang rasanya bukan sekadar alat transportasi. Ia punya karakter, aura, dan kenangan. Salah satunya adalah Citroën BX dan lebih khusus lagi varian Citroën BX 16 TRS, yang dulu sempat singgah di jalanan Indonesia.

BX pertama diperkenalkan pada 23 September 1982, tepat di bawah menara Eiffel. Mobil ini lahir untuk mengisi slot sedan/hatchback “menengah-atas Eropa” menggantikan generasi lama seperti GS. Produksi BX berlangsung hingga 1994 dengan total lebih dari 2,3 juta unit di seluruh dunia, menjadikannya salah satu model paling sukses dari Citroën. 



Di Indonesia, BX datang sekitar tahun 1986 melalui agen dan perakitan resmi pada masa itu, bersama pabrikan lokal. Varian yang tersedia antara lain BX 16 TRS dan BX 19 GTi di mana 16 TRS adalah yang lebih “ramah jalanan” dengan mesin 1.6 liter berkarburator. 

Bagi banyak orang di era 80-an dan 90-an, BX terasa seperti “modus mobil Eropa prestise”. Pasalnya, BX tidak hanya tampil dengan bodi hatchback bergaya khas Eropa. Anggun, kotak, dan agak minimalis tapi juga menyuguhkan fitur-fitur yang jarang ditemukan di mobil zaman itu: power steering, power window, central lock, bahkan suspensi hydropneumatik khas Citroën. 



Suspensi hydropneumatik itu pun jadi legenda tersendiri. Konon, membuat kenyamanan berkendara BX terasa seperti “melayang halus”, bahkan ketika melewati jalan bergelombang atau rusak. Banyak pemilik mengenang betapa halusnya suspensi ini, sesuatu yang belum lazim di kelas mobil harian di Indonesia kala itu.

Tapi sayangnya, seperti mobil-mobil Eropa lain di tanah air, BX menemui tantangan besar. Setelah awal 90-an, kondisi pasar berubah mobil Jepang makin mendominasi, spare-part makin sulit didapat, dan jaringan servis resmi berkurang. Akibatnya, produksi dan distribusi di Indonesia pun berhenti dan BX pun perlahan lenyap dari jalan raya sejak 1994.



Kini, melihat BX 16 TRS yang masih hidup di jalanan Indonesia bukan perkara gampang. Jika bisa dibilang ini bukan sekadar kendaraan tua, melainkan artefak sejarah otomotif: saksi era ketika mobil Eropa dengan karakter kuat sempat nge-hits di Indonesia. Dan bagi kolektor atau penyuka mobil klasik, BX adalah definisi “karakter Eropa” berbeda, elegan, dan terasa eksklusif.

Menulis ini membuat saya membayangkan kembali jalanan Jakarta tahun 1980–an, di mana suara mesin karburator BX dan lembutnya suspensi hydropneumatik menyatu dengan hiruk-pikuk kota. Untuk generasi sekarang, mungkin terasa kuno. Tapi bagi yang paham seluk-beluk automotif tua, BX 16 TRS adalah bukti bahwa Citroën tak cuma membuat mobil, melainkan karakter.



Kalau Anda suatu saat berpapasan dengan hatchback Eropa berdesain kotak, kaca besar, dan aura “jaman dulu” jangan ragu menoleh. Bisa jadi itu bukan sekadar mobil tua: bisa jadi itu adalah BX dan Anda baru saja berjumpa dengan sejarah.

Terkait