Panduan Lengkap Membeli Mobil Bekas untuk Pemula: Hindari Kesalahan yang Sering Dilakukan
Beli mobil bekas? Pelajari 4 faktor krusial ini untuk menghindari risiko kerusakan dan biaya perbaikan tak terduga. Tips dari ahli dan strategi pemeriksaan mendalam bagi pemula.
Bagi banyak orang, mobil bekas menjadi pilihan ideal karena harganya yang lebih terjangkau dibanding mobil baru. Namun, membeli mobil bekas, terutama bagi pemula, memerlukan kewaspadaan tinggi. Herjanto Kosasih, Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, menekankan bahwa ada empat aspek utama yang harus diperiksa sebelum melakukan transaksi: bodi, mesin, kaki-kaki, dan kelengkapan dokumen. Setiap faktor ini saling berkaitan dan tidak boleh diabaikan, karena pengabaian salah satu bisa berujung pada kerugian besar.
Bodi yang mulus bukan hanya soal penampilan, tetapi juga indikator struktural. Cek adanya lecet, karat, atau pernah tidaknya mobil terlibat kecelakaan. Karat yang menyebar di area sambungan atau kolong mobil sering menjadi penyebab kebocoran atau bahkan kegagalan struktur saat berkendara. Jika menemukan retak pada panel bodi, segera tanyakan riwayat kecelakaan kendaraan tersebut.
Mesin adalah jantung mobil. Untuk pemula, Herjanto menyarankan agar prioritas utama adalah memastikan kondisi mesin prima. Lakukan test drive untuk mendengarkan suara mesin—jika ada getaran abnormal atau suara keras saat akselerasi, ini bisa menjadi tanda kerusakan internal. Periksa juga oli mesin: warna yang kecoklatan atau menghitam menandakan oli sudah tidak layak pakai, sementara adanya air di oli (berwarna coklat kehijauan) menunjukkan kebocoran dari sistem pendingin.
Kaki-kaki mobil mencakup sistem suspensi, rem, dan roda. Pastikan tidak ada getaran berlebihan saat berkendara, karena ini bisa disebabkan oleh shock absorber yang rusak atau bushing yang aus. Rem yang bergetar atau berbunyi keras saat diinjak juga perlu dicurigai. Jangan lupa memeriksa tekanan ban dan kondisi velg—retakan atau deformasi pada velg bisa menyebabkan kecelakaan.
Surat-surat kendaraan merupakan aspek paling kritis yang sering diabaikan. Pastikan BPKB, STNK, dan surat mutasi (jika ada) lengkap dan sesuai nama pemilik. Selain itu, cek riwayat servis berkala di buku servis resmi. Mobil yang tidak pernah dirawat secara teratur cenderung memiliki risiko kerusakan lebih tinggi. Jika memungkinkan, mintalah laporan hasil pemeriksaan dari mekanik terpercaya sebelum membeli.
Herjanto juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara anggaran dan kualitas. "Jika anggaran terbatas, pilih mobil dengan usia 5-7 tahun yang sudah terbukti keandalannya," katanya. Contohnya, mobil keluarga seperti Toyota Avanza atau Suzuki Ertiga sering dianggap lebih tahan lama dibanding model eksotis yang membutuhkan perawatan spesial. Namun, jangan tergiur oleh harga murah—cek riwayat pemakaian mobil. Mobil yang digunakan untuk angkutan umum atau operasional bisnis cenderung lebih cepat rusak.
Untuk pemula, Herjanto menyarankan membeli mobil bekas dari dealer resmi atau bursa yang memiliki reputasi baik. Di sini, Anda bisa meminta garansi tambahan untuk komponen tertentu, seperti mesin atau transmisi. Selain itu, hindari transaksi langsung dengan perorangan tanpa bukti riwayat servis. Jika membeli dari pribadi, pastikan mobil tidak dalam sengketa hukum atau kredit yang belum lunas.
Salah satu kesalahan umum pemula adalah terburu-buru saat negosiasi harga. Herjanto menyarankan untuk tidak langsung menawar harga terendah, tetapi fokus pada nilai jual kembali mobil jika nanti ingin menjualnya kembali. Mobil dengan nilai residu tinggi (seperti Toyota, Honda, atau Hyundai) akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Terakhir, jangan lupa memeriksa sistem elektronik seperti AC, audio, dan lampu. Banyak mobil bekas mengalami kerusakan pada komponen ini karena usia pemakaian. Jika memungkinkan, ajak mekanik atau teknisi ke lokasi penjualan untuk melakukan pemeriksaan mendalam. Biaya pemeriksaan ini bisa menjadi investasi yang menghindari kerugian jauh lebih besar di masa depan.