Pelemahan Pasar Mobil Cina, BYD Kena Dampak Awal
Penjualan BYD turun tajam awal 2026, pasar mobil Cina mulai melambat.
Highlights:
- Penjualan BYD turun lebih dari 30 persen di awal 2026
- Produksi dan ekspor kendaraan ikut melemah
- Persaingan harga NEV di Cina semakin ketat
- Permintaan pasar bergejolak pada kuartal I 2026
- Ancaman penutupan bagi produsen mobil listrik kecil
Pelemahan pasar mobil Cina mulai menunjukkan dampak nyata di awal 2026. Salah satu produsen yang langsung merasakannya adalah BYD, raksasa kendaraan listrik asal Negeri Tirai Bambu. Setelah mencatat tren positif sepanjang beberapa tahun terakhir, performa BYD kini mulai tersendat seiring melambatnya industri otomotif domestik.
Berdasarkan laporan Reuters, penjualan BYD pada Januari 2026 mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Angkanya tidak main-main, yakni anjlok sekitar 30 persen dibandingkan Desember 2025. Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa pasar kendaraan roda empat di Cina tengah memasuki fase yang lebih menantang.
Secara global, BYD hanya mampu membukukan penjualan sekitar 210 ribu unit kendaraan sepanjang Januari. Tidak hanya penjualan, sisi produksi juga ikut tertekan dengan penurunan hampir 30 persen. Di pasar ekspor, performa BYD pun belum menggembirakan karena hanya berhasil melepas sekitar 100 ribu unit kendaraan ke luar negeri.
Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang sudah dialami BYD sejak pertengahan 2025. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari ketidakpastian eksternal hingga persaingan yang makin panas di pasar dalam negeri. Produsen mobil listrik di Cina kini berlomba-lomba menyesuaikan strategi, terutama dalam hal harga dan fitur.
Laporan Carnewschina menyebutkan bahwa pasar New Energy Vehicle (NEV) di Cina saat ini berada dalam fase kompetisi ekstrem. Mobil listrik dan hybrid menjadi ajang perang harga, memaksa pemain besar seperti BYD untuk berpikir lebih fleksibel agar tetap relevan. Bagi konsumen, situasi ini memang menguntungkan. Namun bagi produsen, margin keuntungan semakin tergerus.
Tantangan tersebut diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Permintaan kendaraan NEV pada kuartal pertama 2026 diprediksi masih berfluktuasi, seiring perubahan preferensi konsumen dan berakhirnya sejumlah insentif pemerintah. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi BYD, terlebih perusahaan sudah memasang target ambisius penjualan 1,3 juta unit sepanjang 2026.
Di sisi lain, pelemahan pasar mobil Cina sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Ketegangan perdagangan global, perubahan tarif, serta ketidakpastian kebijakan menjadi faktor utama yang menekan industri otomotif. Akibatnya, banyak produsen harus meninjau ulang rencana produksi, strategi harga, hingga ekspansi pasar.
Bahkan, sejumlah analis memperkirakan puluhan produsen mobil listrik skala kecil di Cina berada di ambang krisis. Perlambatan pertumbuhan industri dan berakhirnya dukungan pemerintah berpotensi memicu konsolidasi besar-besaran. Tahun 2026 pun diprediksi menjadi periode seleksi alam bagi industri kendaraan listrik di Cina, di mana hanya pemain paling adaptif yang mampu bertahan.