Sejarah Honda Accord: Dari Sedan Irit Tahun 1970-an hingga Ikon Global
Menelusuri perjalanan Honda Accord dari generasi pertama hingga terakhir
Highlights :
- Perjalanan panjang Honda Accord lintas generasi
- Evolusi desain, teknologi, dan karakter berkendara
- Relevansi Accord di pasar otomotif Indonesia
- Perspektif pengamat otomotif lintas era
Kalau ada satu nama sedan yang tumbuh dewasa bersama industri otomotif global, Honda Accord layak masuk daftar teratas. Mobil ini bukan sekadar produk, melainkan saksi hidup perubahan selera pasar, regulasi, teknologi, dan bahkan gaya hidup penggunanya. Saya pertama kali mengenal Accord bukan dari brosur, melainkan dari parkiran kantor redaksi pada akhir 1990-an. Sejak saat itu, setiap generasinya selalu punya cerita.
Generasi Awal: Lahir di Era Krisis, Bertahan dengan Akal Sehat
Honda Accord generasi pertama lahir pada 1976. Dunia sedang dilanda krisis minyak, dan Honda membaca situasi dengan jeli. Accord hadir sebagai sedan kompak, ringan, irit, dan mudah dirawat. Mesin kecil, penggerak roda depan, serta fokus pada efisiensi membuatnya cepat diterima, terutama di Amerika Serikat.
Di Indonesia, nama Accord belum sepopuler Civic kala itu, namun fondasi reputasinya sudah terbentuk: mobil Honda yang lebih serius, lebih dewasa, dan lebih “kantoran”.
Era 1980–1990-an: Accord Menjadi Global Player
Memasuki generasi kedua hingga keempat, Accord mulai membesar. Bukan tanpa alasan. Pasar Amerika menginginkan kabin lega dan rasa berkendara lebih nyaman. Honda merespons tanpa kehilangan DNA efisiensi.
Generasi ketiga dan keempat menjadi titik penting. Desain mulai berani, fitur bertambah, dan kualitas rakitan meningkat drastis. Di Indonesia, Accord Prestige dan Maestro sempat menjadi simbol eksekutif muda. Saya masih ingat betul, pada masanya, Accord sering dipuji karena suspensinya seimbang dan setirnya komunikatif, sesuatu yang jarang dibahas di iklan, tapi sering dibicarakan di bengkel.
Tahun 1990–2000-an: Masa Keemasan Sedan Jepang
Generasi kelima hingga ketujuh bisa dibilang era emas Accord. Desainnya matang, mesinnya halus, dan reputasinya nyaris tanpa cela. Accord Cielo, VTi-L, hingga CM5 menjadi favorit di Indonesia.
Pada masa itu, Accord terasa sebagai mobil yang “jadi”. Tidak berisik, tidak rewel, dan nyaman dipakai harian maupun perjalanan jauh. Banyak rekan jurnalis sepakat, Accord generasi ini sering menjadi tolok ukur sedan menengah Jepang.
2010-an: Teknologi Masuk, Pasar Berubah
Masuk generasi kedelapan dan kesembilan, tantangan Accord mulai terasa. SUV dan MPV mulai menggerus pasar sedan. Honda merespons dengan teknologi: mesin lebih efisien, fitur keselamatan bertambah, dan desain lebih agresif.
Di Indonesia, penjualan Accord memang tidak lagi masif, namun penggemarnya tetap loyal. Accord menjadi pilihan mereka yang masih percaya pada kenyamanan sedan rendah, bukan sekadar ikut tren.
Generasi Terakhir: Dewasa, Cerdas, dan Lebih Sadar Lingkungan
Accord generasi terbaru tampil lebih minimalis dan canggih. Hybrid menjadi sorotan, sistem keselamatan makin pintar, dan karakter berkendara lebih halus. Mobil ini terasa seperti refleksi Honda saat ini: rasional, efisien, dan fokus pada pengalaman pengguna.
Meski pasar Indonesia semakin condong ke SUV, Accord tetap relevan sebagai simbol konsistensi. Ia tidak berteriak minta perhatian, namun selalu ada untuk mereka yang paham.
Accord dan Indonesia: Cinta yang Lebih Tenang
Accord mungkin tidak lagi menjadi mobil impian massal, namun posisinya jelas. Ia adalah sedan untuk mereka yang tahu apa yang dicari. Dalam puluhan tahun meliput otomotif, saya belajar satu hal: mobil seperti Accord tidak mengejar sensasi sesaat. Ia membangun kepercayaan pelan-pelan.
Di tengah gempuran tren baru, keberadaan Accord mengingatkan kita bahwa evolusi tidak selalu berarti berubah total. Kadang, bertahan dengan nilai yang benar jauh lebih sulit.