Apa yang Harus Dilakukan Saat Aquaplaning: Tetap Tenang, Selamatkan Kendaraan

Panduan praktis menghadapi aquaplaning saat hujan di jalan Indonesia

  • Tanggal
  • :
  • Rabu, 11 Feb 2026 09:05:46
Aquaplaning
Sumber : Istimewa

Highlights :

  • Aquaplaning sering terjadi di jalan basah Indonesia
  • Kesalahan refleks justru memperparah situasi
  • Langkah sederhana yang bisa menyelamatkan kendaraan
  • Pengalaman lapangan dan analisis pengamat otomotif

Bagi pengemudi di Indonesia, hujan deras sering datang tanpa aba-aba. Jalanan licin, genangan air, marka pudar, ditambah kebiasaan berkendara yang terburu-buru. Kombinasi ini membuat aquaplaning atau hydroplaning menjadi ancaman nyata, terutama di jalan tol dan jalur arteri cepat.

Sebagai jurnalis otomotif, saya beberapa kali merasakan sendiri momen ketika setir tiba-tiba terasa ringan dan mobil seperti meluncur tanpa arah. Detiknya singkat, namun cukup untuk membuat jantung berhenti sesaat. Dari pengalaman itulah saya belajar, aquaplaning bukan soal keberanian, melainkan soal reaksi yang tepat.

Apa Itu Aquaplaning?


Aquaplaning terjadi saat ban kehilangan kontak dengan permukaan aspal karena terhalang lapisan air. Ban “mengapung” di atas air, membuat kendali setir, rem, dan akselerasi nyaris hilang. Kejadian ini sering muncul saat kecepatan tinggi, genangan cukup dalam, dan kondisi ban sudah menurun.

Di Indonesia, aquaplaning sering terjadi karena drainase jalan yang kurang optimal dan hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat.

Hal Pertama yang Harus Dilakukan: Tenang

Reaksi alami manusia saat mobil terasa melayang adalah panik. Sayangnya, panik hampir selalu berujung salah langkah. Menginjak rem keras atau membanting setir justru memperbesar risiko mobil berputar.

Saat aquaplaning terjadi, lepaskan pedal gas secara perlahan. Biarkan kecepatan turun dengan sendirinya. Jangan langsung menginjak rem, apalagi di mobil tanpa ABS.

Pegang Setir Lurus dan Stabil

Setir harus dipegang dengan mantap, namun tidak kaku. Arahkan tetap lurus mengikuti laju kendaraan. Ban akan kembali menyentuh aspal ketika kecepatan menurun dan air terlewati.

Saya sering bilang ke rekan sesama jurnalis: aquaplaning bukan momen untuk “melawan” mobil, melainkan membiarkannya kembali patuh.

Hindari Rem Mendadak

Rem mendadak saat ban kehilangan traksi adalah resep bencana. Jika mobil dilengkapi ABS, sistem akan membantu, namun tetap tidak ideal. Fokus utama adalah mengembalikan traksi ban.

Begitu terasa ban sudah kembali mencengkeram aspal, barulah pengereman bisa dilakukan secara bertahap.

Jangan Membanting Setir

Membanting setir saat aquaplaning sering berujung oversteer atau understeer ekstrem. Mobil bisa berputar atau keluar jalur. Koreksi arah dilakukan halus dan perlahan setelah traksi kembali.

Kesalahan ini sering saya temui saat meliput kecelakaan tunggal di jalan tol saat hujan.

Pencegahan: Kunci Utama Berkendara Aman

Menghadapi aquaplaning bukan soal teknik darurat semata. Pencegahan jauh lebih penting. Pastikan kondisi ban layak, alur masih dalam, dan tekanan sesuai rekomendasi. Ban botak adalah undangan terbuka untuk aquaplaning.

Kurangi kecepatan saat hujan, terutama di jalur yang terlihat mengilap atau tergenang. Jaga jarak aman lebih jauh dari kondisi kering.

Konteks Indonesia: Jalan, Cuaca, dan Kebiasaan

Dengan curah hujan tinggi dan kualitas permukaan jalan yang bervariasi, aquaplaning di Indonesia bukan kejadian langka. Sayangnya, banyak pengemudi masih menganggap remeh, mengandalkan kepercayaan diri berlebih.

Dalam puluhan tahun meliput dunia otomotif, saya melihat satu pola yang berulang: kecelakaan saat hujan sering bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman.

Setelah Aquaplaning Terlewati

Jika berhasil melewati aquaplaning, menepilah sejenak jika memungkinkan. Tenangkan diri, evaluasi kondisi ban, dan lanjutkan perjalanan dengan ritme lebih aman. Tidak ada salahnya sedikit terlambat, asal sampai dengan selamat.


Terkait