Tanpa Insentif, Penjualan Mobil Listrik Diprediksi Anjlok Tajam

Tanpa insentif, penjualan mobil listrik global diprediksi anjlok tajam.

  • Tanggal
  • :
  • Senin, 03 Nov 2025 15:05:19
BYD Atto 1
Sumber : BYD Official

Highlights:

  • Penjualan EV di AS diprediksi turun 60% tanpa subsidi pemerintah.
  • Subsidi sebelumnya senilai US$ 7.500 (Rp124,5 juta) per unit dihentikan.
  • Produsen seperti Tesla dan Hyundai berikan diskon besar untuk menahan pasar.
  • Di Indonesia, insentif tetap berlaku bagi mobil listrik dengan TKDN ≥40%.
  • Insentif untuk mobil listrik impor akan dihentikan pada akhir 2025.

Pasar mobil listrik global tengah menghadapi masa sulit. Tanpa dorongan insentif dari pemerintah, penjualan mobil listrik (electric vehicle/EV) diperkirakan merosot tajam — baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia.

Laporan terbaru dari J.D. Power dan GlobalData menunjukkan bahwa pada Oktober 2025, penjualan ritel mobil listrik di AS hanya mencapai 54.673 unit, anjlok 43,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 96.085 unit. Jika dibandingkan bulan sebelumnya, penurunan bahkan lebih drastis — hingga 60% — akibat dihentikannya subsidi senilai US$ 7.500 atau sekitar Rp124,5 juta per unit.

“Industri otomotif sedang mengalami fase penyesuaian besar di segmen kendaraan listrik,” jelas Tyson Jominy, analis data J.D. Power, dikutip dari Carscoops. Ia menambahkan, tanpa insentif, konsumen cenderung kembali mencari kendaraan dengan powertrain konvensional atau hybrid yang lebih fleksibel.

Produsen Turunkan Harga Demi Bertahan


Sejumlah merek besar seperti Tesla, Hyundai, dan General Motors (GM) berusaha menekan dampak absennya subsidi dengan menawarkan diskon besar-besaran dan meluncurkan model EV lebih terjangkau.

Rata-rata diskon mobil listrik di AS kini mencapai US$ 13.161 (Rp218 juta), jauh di atas potongan untuk mobil non-EV yang hanya sekitar US$ 2.423 (Rp40 juta). Meski begitu, harga mobil baru justru naik menjadi US$ 46.057 (Rp764 juta), membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membeli kendaraan baru.

Kondisi Serupa di Indonesia


Situasi serupa juga terjadi di Indonesia. Meskipun pemerintah masih memberikan insentif pajak bagi mobil listrik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40%, penjualan belum sepenuhnya stabil.

Persaingan ketat datang dari mobil hybrid, yang menawarkan efisiensi tanpa tergantung pada infrastruktur pengisian daya. Di sisi lain, pemerintah berencana menghentikan insentif untuk mobil listrik impor pada akhir 2025, termasuk untuk merek populer seperti BYD. Jika tidak segera memulai produksi lokal pada 2026, harga jualnya berpotensi naik signifikan.

Arah Baru Pasar EV

Kondisi ini menandai babak baru bagi industri otomotif global. Masa depan kendaraan listrik kini bergantung pada strategi harga, inovasi teknologi, dan kebijakan energi bersih di tiap negara. Tanpa kombinasi yang tepat, transisi menuju mobilitas listrik bisa berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Terkait