Harga Mobil BMW Turun Drastis, Strategi Hadapi Gempuran Mobil Cina

BMW menurunkan harga mobil hingga 24 persen demi bersaing dengan produk Cina

BMW
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • BMW resmi menurunkan harga lebih dari 30 model di Cina
  • Penurunan harga mencapai 10–24 persen
  • Strategi dilakukan untuk meningkatkan daya saing
  • BMW menegaskan bukan bagian dari perang harga
  • Mobil listrik menjadi model dengan koreksi harga terbesar

Persaingan industri otomotif global semakin panas, terutama di pasar Cina yang kini dipenuhi oleh produk-produk kendaraan asal Tiongkok dengan harga agresif. Kondisi tersebut membuat pabrikan Eropa, termasuk BMW, harus memutar otak agar tetap relevan dan kompetitif. Salah satu langkah yang diambil BMW terbilang berani: memangkas harga jual mobilnya secara signifikan.

Berdasarkan laporan media otomotif Carnewschina, BMW China secara resmi mengumumkan penyesuaian harga besar-besaran terhadap lebih dari 30 model unggulan mereka. Kebijakan ini mulai berlaku sejak 1 Januari 2026 dan langsung menyita perhatian publik otomotif global.



Penurunan harga mobil BMW di Cina dilakukan secara menyeluruh, mencakup segmen entry-level hingga kelas premium. Rata-rata koreksi harga berada di kisaran 10 persen, namun beberapa model mengalami penurunan yang jauh lebih dalam.

Salah satu contoh paling mencolok adalah BMW i7 M70L. Sedan listrik premium ini sebelumnya dibanderol sekitar 1,899 juta yuan atau setara Rp 4,5 miliar. Kini, harganya turun menjadi 1,598 juta yuan atau sekitar Rp 3,8 miliar. Artinya, terjadi pemangkasan harga hingga 16 persen—angka yang terbilang besar untuk kendaraan mewah asal Eropa.



Sementara itu, penurunan paling drastis dialami oleh BMW iX1 eDrive25L. Mobil listrik ini sebelumnya dijual dengan harga hampir 300 ribu yuan pada 2025. Namun kini, konsumen di Cina dapat membawanya pulang dengan harga sekitar 228 ribu yuan atau setara Rp 545 jutaan. Koreksi harga tersebut mencapai 24 persen, menjadikannya salah satu model BMW dengan penurunan tertinggi.

Meski demikian, BMW menegaskan bahwa langkah ini bukan bagian dari perang harga yang tengah berlangsung sengit di Cina. Pabrikan asal Jerman itu menyebut kebijakan ini sebagai strategi peningkatan nilai produk secara sistematis, bukan sekadar banting harga.



BMW menilai pasar otomotif Cina memiliki karakter unik dengan tingkat persaingan ekstrem, khususnya dari produsen lokal yang mampu menawarkan teknologi canggih dengan harga lebih terjangkau. Oleh karena itu, penyesuaian harga dianggap sebagai upaya realistis untuk menjaga daya saing sekaligus memperluas basis konsumen.

Perang harga di Cina memang menjadi fenomena tersendiri. Banyak merek rela mengorbankan margin keuntungan demi mempertahankan pangsa pasar. Namun, strategi ini juga memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan bisnis jangka panjang, terutama bagi pabrikan yang tidak memiliki skala produksi besar.

Langkah BMW ini menunjukkan bahwa bahkan merek premium sekalipun harus beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika pasar. Bagi konsumen, tentu saja situasi ini menjadi angin segar karena membuka peluang memiliki mobil premium dengan harga yang lebih rasional.

Terkait