Gelontoran Investasi Chery hingga BYD Tembus Rp 56,9 Triliun, Industri Otomotif Melesa
Investasi Chery hingga BYD capai Rp 56,9 T di Indonesia.
Highlights:
- Total investasi Chery–BYD mencapai Rp 56,9 triliun.
- BYD bangun pabrik berkapasitas 150 ribu unit/tahun.
- Wuling tambah investasi untuk pabrik baterai.
- Hyundai jadi salah satu investor terbesar dengan Rp 20 triliun.
- Mulai 2026, insentif otomotif resmi dihentikan.
- Produsen wajib penuhi aturan TKDN rasio 1:1 atau bank garansi dicairkan.
Industri otomotif Indonesia terus menunjukkan geliat positif seiring masuknya berbagai pemain global. Mulai dari Chery, BYD, hingga VinFast, deretan pabrikan besar ini tak hanya memasarkan produk, tetapi juga mengucurkan investasi signifikan di Tanah Air. Kombinasi insentif pemerintah dan potensi pasar yang besar membuat Indonesia kian dilirik sebagai pusat produksi kendaraan modern, termasuk mobil listrik.
Investasi Jumbo dari Pemain Global
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, total dana yang digelontorkan para produsen otomotif tersebut mencapai Rp 56,9 triliun. Angka ini dihimpun dari laporan resmi yang dipaparkannya dalam Pembukaan Rapimnas Kadin.
Chery menjadi salah satu yang bergerak agresif dengan investasi sebesar Rp 5,2 triliun. Brand asal Tiongkok itu bahkan menyiapkan dua hingga tiga lini merek yang siap berkembang hingga 2030.
Tidak ketinggalan, BYD yang tengah naik daun turut berkontribusi besar. Perusahaan mobil listrik tersebut menginvestasikan Rp 11,2 triliun untuk mendirikan pabrik di Subang yang memiliki kapasitas produksi mencapai 150 ribu unit per tahun. Langkah ini menegaskan komitmen BYD untuk bersaing di pasar EV Indonesia yang semakin kompetitif.
Wuling, VinFast, dan Hyundai Tak Mau Kalah
Wuling juga memperkuat kiprahnya dalam rantai industri otomotif nasional. Total investasi yang digelontorkan mencapai Rp 9,3 triliun, disusul tambahan Rp 7,5 triliun untuk membangun pabrik baterai. Wuling kini memiliki fasilitas seluas 60 hektare di Cikarang, Jawa Barat, yang berpotensi menjadi basis produksi regional.
Sementara itu, VinFast dari Vietnam masuk dengan investasi Rp 3,7 triliun dan kapasitas produksi 50 ribu unit per tahun. Hyundai bahkan lebih agresif dengan penanaman modal mencapai Rp 20 triliun, menjadikannya salah satu investor terbesar di sektor otomotif modern Indonesia.
Dampak Ekonomi: Industri Tumbuh, Lapangan Kerja Terbuka
Masifnya investasi tersebut tentu membawa dampak positif, tak hanya bagi industri otomotif, tetapi juga perekonomian nasional. Kehadiran pabrik baru otomatis membuka peluang kerja luas, mengurangi angka pengangguran, serta memperkuat rantai pasok komponen lokal.
Selain itu, investasi besar ini menandai keseriusan produsen untuk menjadikan Indonesia sebagai hub produksi pasar ASEAN.
Era Insentif Berakhir 2026
Meski investasi meningkat, pemerintah memastikan bahwa insentif otomotif tidak akan diperpanjang pada 2026. Berdasarkan Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 jo. 1/2024, fasilitas insentif dan skema importasi mobil listrik hanya berlaku hingga 31 Desember 2025.
Memasuki 2026–2027, produsen mobil listrik wajib memenuhi aturan TKDN dengan rasio 1:1, serta memastikan produksi lokal memiliki spesifikasi motor listrik dan kapasitas baterai minimal setara atau lebih tinggi dari unit yang mereka impor. Jika tidak terpenuhi, pemerintah berhak mengeksekusi bank garansi yang telah disetorkan.
Kebijakan ini menegaskan target pemerintah untuk mendorong industrialisasi EV yang benar-benar berbasis produksi lokal, bukan sekadar perakitan.