The Diesel Decline: Hydrogen's Rise as the Future of Automotive Power
Dari emisi berbahaya hingga biaya perawatan mahal, mesin diesel menghadapi tantangan berat. Toyota Australia memprediksi hidrogen akan menggantikan bahan bakar ini dalam dekade mendatang. Simak analisis lengkap di sini.
Mesin diesel selama ini dikenal sebagai pilihan andalan untuk kendaraan bermesin bensin karena efisiensinya yang tinggi. Namun, di balik reputasi tersebut, kini mesin yang ditemukan oleh Rudolf Diesel pada akhir abad ke-19 menghadapi tantangan besar. Emisi nitrogen oksida (Nox) yang dihasilkan menjadi salah satu faktor utama yang membuat mesin ini semakin ditinggalkan. Bahkan, Wakil Presiden Toyota Australia, Sean Hanley, menyatakan bahwa diesel mungkin akan hilang sepenuhnya dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, digantikan oleh teknologi hidrogen.
Kendala utama mesin diesel terletak pada regulasi emisi global yang semakin ketat. Untuk memenuhi standar tersebut, pabrikan harus mengembangkan teknologi pengurangan emisi yang kompleks, seperti sistem EGR (Exhaust Gas Recirculation) atau SCR (Selective Catalytic Reduction). Biaya pengembangan dan perawatan teknologi ini membuat harga kendaraan bermesin diesel semakin mahal, sementara efisiensi bahan bakar yang dulu diunggulkan mulai tergerus oleh kompetitor.
Australia, sebagai pasar otomotif terbesar kedua di Asia setelah Indonesia, menjadi contoh nyata pergeseran ini. Negeri Kangguru ini selama ini mengandalkan mesin diesel untuk kendaraan komersial dan pribadi, tetapi kini mulai beralih ke alternatif lain. Hanley menekankan bahwa meskipun diesel masih akan bertahan hingga 2035, tren penurunan penjualan sudah terlihat jelas.
Prediksi Hanley didasarkan pada investasi besar Toyota dalam teknologi hidrogen. Meski banyak pabrikan otomotif beralih ke mobil listrik (EV), Toyota tetap fokus pada pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Perusahaan ini percaya bahwa hidrogen bersih, dengan infrastruktur yang lebih baik, akan menjadi solusi praktis dan berkelanjutan di masa depan.
"Hidrogen memiliki potensi untuk menggantikan diesel karena emisinya nol dan waktu pengisian baterai yang lebih cepat dibandingkan EV," kata Hanley. Namun, tantangan utama tetap ada: jaringan stasiun pengisian hidrogen masih terbatas. Saat ini, hanya 400 stasiun pengisian hidrogen di seluruh dunia, jauh di bawah jumlah stasiun pengisian EV atau SPBU konvensional.

Untuk mempercepat transisi ini, Toyota bekerja sama dengan pemerintah dan perusahaan lain untuk membangun ekosistem hidrogen. Contohnya, proyek Mirai di Jepang yang mengembangkan mobil hidrogen dan infrastruktur pendukungnya. Namun, Hanley mengakui bahwa koordinasi global diperlukan agar hidrogen bisa bersaing dengan EV dan bahan bakar fosil.
Biaya produksi hidrogen juga masih tinggi, terutama karena proses elektrolisis yang membutuhkan energi bersih. Namun, dengan inovasi seperti teknologi pemisahan hidrogen dari air laut atau penggunaan energi surya, biaya ini diharapkan akan turun signifikan dalam 10 tahun ke depan. "Kuncinya adalah membuat hidrogen lebih terjangkau dan nyaman bagi konsumen," tambah Hanley.
Di sisi lain, mesin diesel tidak sepenuhnya mati. Pabrikan seperti Mercedes-Benz dan BMW masih mengembangkan mesin diesel beremisi rendah untuk pasar tertentu, terutama di Eropa. Namun, tren global menunjukkan bahwa investasi di sektor ini semakin berkurang. Pabrikan otomotif besar seperti Volkswagen dan Ford bahkan telah mengumumkan penghentian produksi kendaraan bermesin diesel dalam 5-10 tahun.
Bagi konsumen, transisi dari diesel ke hidrogen atau EV membutuhkan adaptasi. Harga kendaraan hidrogen saat ini masih jauh lebih mahal dari EV atau mesin konvensional. Namun, Hanley optimis bahwa dengan dukungan pemerintah dan inovasi teknologi, kendaraan hidrogen akan menjadi pilihan utama di 2035. "Ini bukan soal memilih antara EV dan hidrogen, tapi membangun ekosistem yang memenuhi kebutuhan semua jenis pengemudi," jelasnya.